Table of contents

Pendiri Kami Master Sheng Yen (1930-2009)

Master Sheng Yen suka menyebut dirinya “seorang biksu pengembara maju melalui salju dan angin.” Dia pernah terpilih oleh majalah Commonwealth sebagai salah satu dari 50 orang paling berpengaruh di Taiwan dalam 400 tahun terakhir. Jika dikilas balik, kehidupannya penuh dengan tantangan, cobaan, dan titik perubahan.

Guru ini telah menderita kesehatan yang lemah sejak kecil dan menjadi samanera di Langshan, Jiangsu, Tiongkok pada usia 14 tahun. Setelah itu, ia menghabiskan bertahun-tahun melakukan ritual penyelamatan, kemudian melayani di militer, sebelum kembali ke kehidupan monastik pada usia 30 tahun, ditahbiskan oleh Master Dongchu. Baik itu selama enam tahun pertapaan soliter, studi di Jepang, penyebaran Dharma di AS, atau mendirikan Gunung Dharma Drum (DDM), Guru selalu bisa menemukan jalan keluar ketika tidak tampak ada jalan. Tekad welas asihnya bersinar jelas melalui kesulitan, dan kebijaksanaan Chan-nya memanifestasi ketekunannya. Bagi dia, kehidupan adalah perjalanan hidup pada Buddhadharma.

Untuk meningkatkan status Buddhisme dan kualitas biksu, pada usia 40 tahun Master Sheng Yen memutuskan untuk pergi ke Jepang untuk studi lanjutan. Setelah mendapatkan gelar Doktor Sastra dari Universitas Rissho di Tokyo pada tahun 1975, dia menjabat sebagai profesor di Universitas Budaya Tionghoa, Universitas Soochow, dan universitas dan perguruan tinggi lainnya. Dia juga menjabat sebagai direktur Institut Studi Buddhis di Akademi Tionghoa dari Perguruan Tinggi Budaya Tionghoa, wakil presiden Asosiasi Buddhis Amerika Serikat, direktur Institut Penerjemahan Tripitaka yang didukung oleh Asosiasi Buddhis Amerika Serikat, dan pendiri Institut Studi Buddhis Chung-Hwa, Universitas Sangha, dan Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Sosial Dharma Drum. Selain itu, ia meluncurkan Jurnal Buddhis Chung-Hwa dan Studi Buddhis Chung-Hwa, menjabat sebagai profesor pembimbing untuk mahasiswa doktor dan master studi di Universitas Nasional Chengchi, Universitas Budaya Tionghoa, dan institut pendidikan tinggi lainnya, dan memberikan lebih dari 200 kuliah atau pidato di lebih dari 100 universitas atau perguruan tinggi di seluruh dunia.

Pada tahun 1989, guru tersebut mendirikan Gunung Dharma Drum dengan visi untuk mendirikannya sebagai pusat pendidikan Buddhis dunia yang didedikasikan untuk penelitian akademis, praktik Dharma dan penyebaran, dan amal sosial. Seiring waktu, ini telah berkembang menjadi sebuah organisasi yang bergelut dalam penyebaran dan popularisasi Dharma, promosi praktik Chan, budaya, dan pendidikan, dan amal sosial di Taiwan dan luar negeri. Saat ini, cabang-cabang pusat meditasi dan praktik Buddhis DDM telah didirikan di Taiwan dan negara-negara lain di Eropa, Asia, Amerika, dan Australia. Untuk waktu yang lama Master Sheng Yen bepergian antara Taiwan dan Amerika Serikat untuk menyebarkan Buddhadharma dan mengunjungi negara-negara lain di seluruh dunia untuk memberikan panduan tentang praktik Chan, dan diakui secara internasional sebagai seorang master Chan yang terkemuka. Dengan transmisi resmi dari kedua garis keturunan Linji dan Caodong dari sekolah Chan, Guru dapat menembus prinsip-prinsip Buddhis (sila dan Vinaya) dan mengintegrasikan berbagai tradisi Buddhis untuk menawarkan bimbingan dan ajaran yang sesuai untuk orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda secara alami dan jelas, dengan demikian menggabungkan dan mempengaruhi banyak orang baik di Barat maupun Timur.

Master Sheng Yen mengabdi untuk menyebarkan Buddhadharma dengan bahasa dan sudut pandang yang dapat diakses oleh khalayak luas pada zaman modern. Meskipun jadwalnya padat, dia tetap mendedikasikan dirinya untuk menulis dan menjadi penulis lebih dari 100 buku. Selain publikasi dalam bahasa Mandarin, Inggris, dan Jepang, banyak bukunya diterjemahkan ke bahasa lain dan diterbitkan di seluruh dunia. Selain itu, ia memenangkan berbagai penghargaan bergengsi di Taiwan, termasuk Penghargaan Seni dan Sastra Sun Yat-sen, Penghargaan Akademik Sun Yat-sen, Penghargaan Budaya Nasional, dan Penghargaan Kebudayaan Presiden.

Dalam beberapa tahun terakhir, untuk mewujudkan idealnya dalam mempromosikan budaya, pendidikan, Buddhadharma, dan praktik spiritual, Master mengadakan dialog dengan tokoh-tokoh terkemuka dalam teknologi, seni rupa, dan budaya, dan bekerja sama dengan agama lain. Ini mencerminkan kebesarannya pikiran dan perspektif global dan memenangkannya pengakuan universal. Guru memulai konsep Perlindungan Lingkungan Spiritual dan mengadvokasi ideal “Meningkatkan karakter manusia dan membangun tanah suci di Bumi.” Dengan dasarnya dalam Buddhisme Tionghoa, Guru melakukan upaya tanpa henti untuk membawa beberapa aspek Buddhisme ke dunia modern, dengan demikian menjalankan misi luhur mewarisi tradisi dan bercita-cita untuk masa depan yang lebih baik.

Sumber: Yayasan Pendidikan Sheng Yen

Chan adalah aliran Buddhisme Tiongkok yang dikenal dengan sebutan “Zen” dalam bahasa Jepang. Ini juga merupakan istilah yang mengacu pada cara hidup atau pengalaman terhadap dunia. Namun pada akhirnya, Chan artinya pencerahan langsung terhadap keterhubungan dan ketidakkekalan, serta munculnya kebijaksanaan dan welas asih keBuddha sebagai konsekuensinya. Pengalaman pencerahan ini tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata; tidak dapat diakses oleh dualisme bahasa dan konsep. Ini adalah keadaan kesadaran yang bebas dari rujukan diri.

Karena inilah ada pepatah: “Chan tidak didirikan pada kata-kata dan bahasa;” namun Chan dengan bebas menggunakan kata-kata dan bahasa untuk memberi manfaat pada dunia. Ajaran dimulai dengan mengenal diri sendiri, tetapi proses praktik membawa kita pada penemuan akan keterhubungan kita dengan orang lain. Pengalaman langsung pribadi Chan membawa pada aktualisasi kebijaksanaan dan welas asih, yang menghasilkan kedamaian dan pemahaman di dunia.

Secara khusus, ajaran Chan mencakup empat elemen kunci: keyakinan, pengertian, praktik, dan pencerahan. Keyakinan adalah kepercayaan pada diri sendiri dan jalan yang ditempuh. Pengertian merujuk pada wawasan yang didapat dalam perjalanan. Praktik mengubah kebiasaan negatif dan pandangan yang terdistorsi. Pencerahan adalah aktualisasi kebijaksanaan dan belas kasihan. Keempat elemen ini tidak terpisahkan dan saling melengkapi.

Praktik Anda dapat hadir dalam situasi apa pun. Yang Anda butuhkan hanya beberapa saat selama hari sibuk Anda, berhenti, duduk, santai, dan bersihkan pikiran Anda. Anda tidak selalu perlu duduk di atas bantal untuk berlatih selama tiga puluh menit. Anda dapat berlatih di mana saja – di meja kerja, di mobil, bus, atau kereta – dan kapan saja, seperti sekarang ini. Relakskan tubuh dan pikiran anda, biarkan kejernihan dan senyum lembut muncul dari dalam, dan biarkan tubuh dan pikiran Anda melepaskan dan menyegarkan diri.

Terdapat banyak masalah eksistensi manusia yang tidak akan pernah terselesaikan, bahkan di era kemajuan ilmiah dan teknologi ini. Pasokan energi bumi terus berkurang, tubuh manusia terus merusak. Namun, di hadapan kehancuran yang tidak terhindarkan, kita berusaha untuk memperbaiki kondisi kehidupan manusia. Namun ilmu science saja bukanlah jawabannya. Pikiran dan tubuh manusia dapat memperoleh kekuatan besar dari meditasi Ch’an. Pada yang paling berbakat, itu bekerja secara alami dan tanpa disadari. Tetapi bahkan orang-orang dengan bakat yang luar biasa, kapan saja, di mana saja, dapat mencapai kekuatan, ketenangan, dan pemahaman jika mereka menguasai teknik meditasi dengan bantuan seorang guru Ch’an. Bahkan langkah pertama belajar meditasi – menahan ketidaknyamanan fisik duduk dalam posisi tertentu untuk waktu yang lama – mengajarkan pemula akan disiplin yang diperlukan untuk melampaui kerentanan manusia.

Profesor Psikologi di Universitas Kyoto, Dr. Sato Yukimasa, telah mencantumkan beberapa efek psikologis dari meditasi: peningkatan kesabaran dan kekuatan penalaran; stabilisasi emosi dan pikiran; penyempurnaan kepribadian; dan akhirnya, pencapaian pencerahan. H.U. Zaburo, M.D., mengutip kondisi fisik yang dapat disembuhkan melalui meditasi; yaitu, kegugupan, insomnia, tekanan darah tinggi, dll. Meskipun hasil psikologis dan fisik bukanlah perhatian utama meditasi Ch’an, aspek-aspek ini mungkin menarik dan persuasif bagi pemula. Kemudian mereka akan belajar untuk fokus pada pencerahan spiritual sebagai tujuan tertinggi.
Sebagian besar energi mental dan fisik manusia dialihkan dari aplikasi yang berguna melalui gangguan, pikiran acak, dan emosi. Ini mengganggu pikiran dan mengganggu keseimbangan kerja organ tubuh. Ketika kerja sistem saraf seseorang tidak seimbang, efeknya terlihat pada kepribadian. Berbagai aspek karakter menjadi dominan. Hanya individu yang luar biasa superior yang dapat mengarahkan energi kuat ini secara positif. Sering kali ketidak seimbangan saraf menghasilkan sifat-sifat kepribadian negatif. Tetapi ketenangan pikiran yang hasilnya dari praktik meditasi Ch’an yang benar, mendorong fungsi yang tepat dari semua sistem tubuh. Praktik meditasi sangat berkaitan dengan proses pernapasan. Pengendalian napas yang tepat menginduksi fungsi optimal dari sistem saraf dan sirkulasi. Ketika aliran darah disimulasikan melalui pernapasan dalam, kemampuan regeneratif tubuh ditingkatkan. Dengan demikian banyak penyakit dapat diperbaiki dan mendukung umur panjang.

Kepribadian manusia dapat dibentuk oleh pelatihan eksternal, seperti studi seni, agama, dll. Tetapi kepribadian hanya dapat diperbaiki secara efektif dari dalam. Meditasi Ch’an tidak memberlakukan pembatasan eksternal pada karakter, tetapi justru membentuknya melalui pemahaman diri dan pembebasan diri. Ketika meditasi dipraktikkan dengan benar dan konsisten dengan instruksi seorang guru Ch’an, karakter yang sejati dan sempurna diri seseorang akan terungkap secara bertahap, dan pencerahan yang sempurna semakin dekat.

Kutipan dari Majalah Chan, Vol 1 oleh Chan Master Sheng Yen

Beberapa orang menyukai teh kental, beberapa menyukai teh yang lembut dan beberapa lebih memilih air putih. Teh kental merangsang dan menggairahkan; teh encer memuaskan dahaga, dan air mengisi cairan tubuh. Teh kental seperti matahari musim panas yang terik dan guntur yang keras pada saat yang sama; teh lembut seperti bulan musim gugur; air bukanlah matahari, bulan, atau hujan, tetapi memiliki kejernihan dan kecerahan yang ekstrim. Beberapa orang minum teh kental untuk melawan rasa kantuk atau lelah, kebanyakan orang lebih suka teh lembut, dan mereka yang hanya minum air putih hanya sedikit.

Minum teh di aula meditasi bisa menjadi sebuah ritual, tetapi yang paling penting adalah mendengarkan kata-kata guru. Bahkan, pembicaraan seperti ini disebut “kata-kata teh”. Kata-kata ini seperti kekuatan teh yang berbeda, karena metode yang kami ajarkan bervariasi sesuai dengan tingkat pengalaman siswa. Beberapa metode sangat kuat, beberapa lebih ringan, dan beberapa tidak memiliki arti tertentu.

Teh yang kental disebut “teh pahit”. Mereka yang baru saja mulai berlatih belum siap untuk meminum teh ini. Setelah mereka memperoleh manfaat dari latihan tetapi masih belum jelas bagaimana menenangkan pikiran mereka, mereka harus minum teh pahit. Seperti dipanggang oleh terik matahari atau dikejutkan oleh guntur, teh pahit ini tidak memberi mereka kesempatan untuk bermalas-malasan. Mereka tidak akan berani tertidur atau memanjakan diri dengan pikiran yang kacau. Teh pahit ini akan membangkitkan “tekad yang membara” untuk berlatih keras. Inilah sebabnya mengapa para master dari sekte Linji biasa memukul dan berteriak. Metode seperti itu adalah teh pahit yang hanya diberikan kepada orang-orang yang sudah berlatih keras. Jika seorang guru memukul atau meneriaki siswa yang tidak rajin, mereka mungkin berpikir itu sangat aneh atau bahkan takut.

Salah satu jenis siswa yang mungkin diberikan teh lembut adalah para pemula yang haus akan latihan tetapi belum siap untuk minum teh pahit. Kepada mereka saya akan mengucapkan kata-kata penghiburan dan dorongan untuk membuat mereka merasa senang berlatih. Jenis lainnya adalah mereka yang telah minum teh pahit tetapi dalam bahaya kehilangan tekad untuk berlatih. Kepada mereka saya akan memberikan teh pahit sebagai cara yang bijaksana. Ini seperti mengatakan kepada seseorang yang baru saja memulai perjalanan, “Ada sebuah tempat di cakrawala yang sangat indah, dengan pepohonan, burung-burung, dan pemandangan yang indah. Jika Anda terus berjalan, Anda pasti akan sampai di sana.”

Salah satu sutra menceritakan tentang seorang pria yang meneriaki lembunya, “Kamu bodoh dan tidak berguna! Mengapa kamu tidak bisa melaju lebih cepat dengan beban yang begitu ringan? Tidakkah kamu melihat semua lembu lain di depan kita melaju dengan cepat?” Lembu itu berhenti di jalurnya dan tidak mau bergerak, berpikir, “Karena saya tidak berguna, mengapa saya harus bergerak?” Maka pria itu, dengan sangat kesal, bertanya kepada orang-orang di depan, “Bagaimana kalian bisa membuat lembu kalian melaju dengan sangat cepat?” Mereka menjawab bahwa mereka menipu hewan mereka, dengan mengucapkan kata-kata manis kepada mereka, seperti, “Kamu sangat baik dan bersemangat. Tanpa kamu, saya tidak akan sampai ke mana-mana. Beberapa waktu yang lalu kamu mendaki bukit itu seperti tidak ada apa-apanya. Sekarang jalannya sudah rata, kamu pasti bisa melaju dengan cepat.” Jadi lembu-lembu itu sangat senang bisa melaju dengan cepat. Seperti manusia, hewan juga perlu dihibur dan disemangati.

Air memiliki rasa yang “hambar”; air harus diberikan hanya kepada mereka yang telah berlatih dengan sangat baik tetapi belum memasuki pintu Chan, dengan kata lain, belum memiliki realisasi. Mereka telah meminum teh yang pahit dan lemah dan terikat pada rasa, yang berarti mereka cenderung berpikir terlalu banyak dan tidak dapat menghentikan pikiran mereka. Mereka juga tidak dapat meletakkan metode mereka dan mungkin melekat pada tujuan untuk mendapatkan pencerahan. Mereka terbebani oleh pengalaman dan kecerdasan mereka. Kepada mereka saya akan memberikan metode yang tidak berasa. Sebagai contoh, Guru Zhaozhou dari dinasti Tang menggunakan frasa yang tampaknya tidak memiliki arti, seperti: “10.000 dharma kembali menjadi satu; ke manakah kembalinya satu dharma itu?” Atau, “Ketika saya berada di Qingzhou, saya membuat jubah seberat tujuh kilogram.” Atau, “Apa yang dibawa Bodhidharma dari Barat?” Atau, “Di taman ada pohon cemara.” Ini adalah contoh-contoh kata-kata “air” yang dapat mendorong seorang praktisi untuk melepaskan semua kemelekatan, membuang segala sesuatu, dan mencapai tujuan tertinggi yaitu pencerahan. Tetapi ada juga orang yang tiba-tiba dapat meletakkan semua kemelekatan mereka dengan teh pahit. Hal ini bekerja dengan memberi mereka kejutan. Seseorang bahkan dapat mencapai hal ini dengan meminum teh pahit, tetapi dalam kasus ini, pencerahannya hanya dapat terjadi secara bertahap.

Banyak persoalan eksistensi manusia tidak terselesaikan meskipun ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang. Sumber daya bumi menipis, dan tubuh manusia terus mengalami kerusakan. Namun di tengah kehancuran yang tak terhindarkan, manusia berusaha memperbaiki kualitas hidupnya.

Ilmu pengetahuan saja bukan jawabannya. Pikiran dan tubuh manusia dapat memperoleh kekuatan besar dari meditasi Chan. Pada sebagian orang berbakat, meditasi bekerja secara alami. Namun siapa pun, kapan pun, dan di mana pun, dapat mencapai ketenangan, kekuatan, dan pemahaman melalui meditasi dengan bimbingan guru Chan.

Langkah awal meditasi—menahan ketidaknyamanan fisik dalam posisi duduk—mengajarkan disiplin yang diperlukan untuk melampaui keterbatasan manusia.

Profesor Psikologi Universitas Kyoto, Dr. Sato Yukimasa, menyebutkan efek psikologis meditasi:

peningkatan kesabaran

peningkatan daya nalar

stabilisasi emosi

penyempurnaan kepribadian

pencapaian pencerahan

Dr. H.U. Zaburo mencatat kondisi fisik yang dapat diperbaiki melalui meditasi, seperti kegugupan, insomnia, dan tekanan darah tinggi.

Sebagian besar energi manusia terbuang melalui gangguan, pikiran acak, dan emosi. Hal ini mengganggu sistem saraf dan keseimbangan tubuh. Meditasi Chan yang benar menenangkan pikiran dan mengembalikan fungsi alami sistem tubuh.

Pengendalian napas yang tepat mendukung sistem saraf dan sirkulasi darah, meningkatkan kemampuan regenerasi tubuh dan mendukung umur panjang.

Kepribadian manusia dapat dibentuk secara efektif dari dalam melalui meditasi Chan, bukan melalui pembatasan eksternal. Dengan praktik yang benar dan konsisten, karakter sejati seseorang akan terungkap dan pencerahan semakin dekat.

Sumber: Kutipan dari Majalah Chan Vol. 1 – Chan Master Sheng Yen


Oleh: UAP. Satyamita Kurniady Halim

Siapa di antara kita yang tak pernah mengeluh? Dari masalah sepele hingga yang kompleks, keluhan selalu menyelip dalam setiap sudut kehidupan kita. Mungkin kita merasa pasangan kurang memahami, anak-anak terasa menyebalkan, atau orang tua yang terus-terusan mengeluh. Mungkin juga kita merasa tertekan dengan gaji yang tak kunjung naik, atau dengan keterbatasan-keterbatasan lain dalam hidup. Semua ini adalah bagian dari perjalanan hidup yang penuh dengan ketidakpuasan. Namun, siapa sebenarnya yang harus disalahkan atas semua ini? Apakah salah pasangan kita? Anak-anak kita? Atau bos kita? Apa yang sebenarnya salah dalam hidup kita ini?

Melihat Melalui Jendela Paradigma

Paradigma, dalam pandangan Steven Covey dalam “Seven Habits”, adalah lensa melalui mana kita melihat dunia. Ini mencakup pandangan, keyakinan, dan panduan kita dalam menghadapi situasi. Namun, apa yang terjadi ketika paradigma yang kita miliki tidak mencerminkan realitas yang sebenarnya? Inilah ketika paradigma menjadi pembatas dalam hidup kita.

Metode yang digambarkan dapat dipahami sebagai proses siklus. Pertama, kita melihat sebuah situasi atau masalah melalui paradigma kita. Kemudian, kita bertindak berdasarkan pandangan itu. Akhirnya, kita mengalami konsekuensi dari tindakan kita, yang kemudian memengaruhi pandangan kita pada masa mendatang. Ini adalah lingkaran yang terus berulang.

Jadi, bayangkan jika paradigma yang kita tanam adalah bahwa diri kita buruk. Hal ini akan memengaruhi cara kita memandang diri sendiri. Meskipun kita berusaha untuk menjadi lebih baik, kita akan terus merasa jelek. Ini, pada gilirannya, akan mempengaruhi cara kita merawat diri. Kita mungkin menjadi malas dan kurang peduli terhadap kesejahteraan kita karena paradigma yang salah ini terus membatasi kita. Hal yang sama ketika kita memandang sesuatu atau seseorang itu buruk. Kita akan berusaha mencari berbagai referensi bahwa situasi tersebut ‘benar adanya’ untuk mencari pembenaran terhadap paradigma yang kita yakini. Dan inilah yang memengaruhi cara pandang kita terhadap seseorang atau sesuatu. 

Pemahaman ini bisa diibaratkan seperti melihat dunia melalui kaca jendela yang kotor. Sekuat apa pun upaya kita untuk melihat kebaikan, kita tetap akan terhalang oleh kotoran yang menempel di kaca. Demikianlah cara kerja paradigma dalam kehidupan kita.

Pikiran Membentuk Nasib

Samuel Smiles pernah menyatakan dengan bijak, “Sow a thought, and you reap an act; Sow an act, and you reap a habit; Sow a habit, and you reap a character; Sow a character, and you reap a destiny.” Artinya, apa yang kita tanam dalam pikiran kita, akan menjadi benih bagi segala tindakan kita, kebiasaan kita, karakter kita, dan akhirnya, nasib kita. 


Ini tak jauh berbeda dengan syair Dhammapada, bahwa pikiranlah yang menjadi pemimpin segalanya. Pikiran yang jahat akan membawa penderitaan, namun pikiran yang murni akan membawa kebahagiaan.

Ketika kita tengah terjebak dalam gelombang keluhan dan kekecewaan, kadang-kadang kita lupa untuk melihat dunia dengan mata yang bersih dan tulus. Kita terlalu sering melihat dengan jendela yang kotor, dan akibatnya, segala sesuatu terlihat buram dan negatif. Namun, bagaimana jika kita memindahkan paradigma kita dan melihat melalui jendela yang bersih?

Saat kita memandang orang lain atau situasi dengan pandangan yang negatif, itu hanya mencerminkan keadaan pikiran kita sendiri yang kotor. Jika kita terus-menerus merasa tidak puas dan mengeluh, semua yang kita lihat akan terlihat buruk. Namun, ketika kita memperbaiki paradigma kita dan melihat dengan mata yang bersih, kita akan melihat kebaikan di sekitar kita.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Rumi, seorang sufi terkenal, “the beauty you see in me is a reflection of you.” Kata-kata ini mengingatkan kita bahwa ketika kita mengagumi kebaikan dalam orang lain, sebenarnya kita mengenali kebaikan yang ada dalam diri kita sendiri. Kita tidak akan bisa melihat kebaikan di luar jika itu tidak ada dalam diri kita. Setiap kali Anda mengagumi seseorang yang tampaknya melakukan sesuatu atau memiliki kualitas yang Anda sukai, faktanya adalah bahwa Anda tidak dapat melihat apa pun itu pada orang lain, jika hal itu belum ada di dalam diri kita.

Jadi, berhenti sejenak dari keluhan dan kekecewaan. Saatnya bagi kita melihat dengan jendela yang bersih, kita akan menyadari bahwa setiap orang dan setiap hal memiliki keunikan dan keindahan yang tak tergantikan. Mereka semua hebat dalam cara mereka sendiri. Dan inilah mengapa kita perlu mindful, hadir disini, di saat ini, karena setiap aspek kehidupan ini adalah unik dan indah dengan caranya sendiri. Mari kita nikmati setiap momen dengan penuh syukur dan penerimaan. 


Referensi:

Seven Habits oleh Steven Covey

Dhammapada syair 1 dan 2



Oleh: Ir. Agus Santoso

Tanggal: 28 Februari 2025

Apakah perlu membaca banyak buku sebelum berlatih?

Dhamma tidak ditemukan dalam buku. Cukup perhatikan pikiran, perasaan, dan bagaimana semuanya datang dan pergi. Jangan melekat. Semua aktivitas sehari-hari adalah kesempatan berpraktik.

Bagaimana menghadapi keraguan?

Keraguan adalah alami. Jangan mengidentifikasi diri dengannya. Amati saja bagaimana keraguan muncul dan berlalu.

Bagaimana dengan banyaknya metode meditasi?

Semua jalan yang benar bermuara pada prinsip yang sama: jangan melekat.

Pikiran sering mengembara, apa yang harus dilakukan?

Amati saja. Jangan mencoba menyingkirkan pikiran. Biarkan berlalu dengan alami.

Samatha dan Vipassana, apa bedanya?

Keduanya bekerja bersama. Konsentrasi menenangkan pikiran, dan dari ketenangan itu kebijaksanaan muncul.

Mengantuk saat meditasi?

Ubah posisi, tempat, atau aktivitas. Jika perlu, tidur dengan kesadaran penuh dan bangun dengan segera.

Sudah damai, ingin kembali memperdalam konsentrasi?

Baik. Namun jangan melekat pada pencapaian apa pun. Kebijaksanaan adalah alat untuk tidak melekat.


Oleh: UAP. Satyamita Kurniady Halim

Haemin Sunim pernah menegaskan dengan sederhana namun mendalam: “Dunia bergerak cepat, tetapi itu tidak berarti kita harus ikut bergerak cepat.”

Kalimat ini terdengar sepele, namun jika direnungkan lebih dalam, ia menyentuh akar dari banyak kelelahan yang kita alami hari ini. Kita hidup di zaman di mana kecepatan dianggap sebagai ukuran keberhasilan. Cepat merespons, cepat bekerja, cepat mencapai target, cepat beradaptasi. Perlahan-lahan, tanpa kita sadari, kecepatan ini tidak hanya mengatur jadwal kita, tetapi juga merasuk ke dalam batin.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat—kejar target, tuntutan pekerjaan, tekanan keluarga, dan ekspektasi sosial—kita sering lupa satu hal mendasar: tubuh kita bukan mesin, pikiran kita bukan komputer, dan jiwa kita membutuhkan ruang untuk bernapas. Namun, kita jarang memberi ruang itu. Kita terus bergerak, bahkan saat tubuh dan hati meminta berhenti.

Mengapa Kita Perlu Melambat

Kita hidup di dunia yang terus bergerak maju, seolah diam berarti tertinggal. Kecepatan dipuja, kesibukan dibanggakan, dan kelelahan sering dianggap sebagai bukti bahwa kita hidup dengan sungguh-sungguh. Namun Haemin Sunim mengingatkan dengan lembut: dunia memang bergerak cepat, tetapi itu tidak berarti kita harus ikut berlari bersamanya.

Ironisnya, semakin kita mempercepat langkah, semakin hidup terasa tercecer. Pikiran berlari ke banyak arah sekaligus, tubuh menanggung kelelahan yang tak sempat disadari, dan hati perlahan kehilangan kepekaannya. Kita tetap bergerak, tetapi tak lagi benar-benar merasakan. Kita makan, tetapi rasa tidak hadir. Kita mendengar, tetapi makna tak sampai. Kita hidup, tetapi tidak sungguh-sungguh berada di dalam hidup itu sendiri.

Kecepatan menjanjikan efisiensi, tetapi sering mencuri kehadiran. Kita mengejar waktu, namun justru kehilangan momen. Kita ingin menyelesaikan banyak hal, tetapi lupa menyentuh satu hal pun dengan utuh. Dalam keadaan seperti ini, hidup berjalan, tetapi jiwa tertinggal jauh di belakang.

Melambat terdengar seperti kemunduran di dunia yang memuja percepatan. Namun di situlah paradoksnya: justru dengan melambat, kita akhirnya benar-benar sampai. Melambat bukanlah kemalasan, melainkan keberanian untuk hadir sepenuhnya. Keberanian untuk mengakui bahwa detik ini tidak akan pernah terulang, dan karena itu layak dijalani dengan kesadaran penuh.

Keheningan dalam diri hanya muncul pada jiwa yang memberi dirinya ruang untuk berhenti. Kita tidak bisa memaksa kedamaian datang dengan tergesa-gesa. Semakin kita memburunya, semakin ia menjauh. Tetapi ketika kita berhenti mengejar, ia sering kali sudah ada di sana, menunggu untuk disadari.

Melambat, pada akhirnya, adalah perjalanan pulang. Bukan pulang ke rumah yang memiliki alamat, tetapi pulang ke ruang batin yang selama ini kita tinggalkan. Kita mengira kedamaian ada di luar—di pencapaian, di pengakuan, di kondisi ideal yang belum tercapai. Padahal, yang kita cari bukan sesuatu yang baru, melainkan sesuatu yang pernah kita kenal, lalu kita lupakan.



Pulang ke Rumah Batin

Saat kita melambat, napas tidak lagi sekadar fungsi biologis, melainkan pintu masuk menuju kehadiran. Langkah kaki tidak lagi sekadar perpindahan, tetapi menjadi doa yang bergerak. Tubuh mulai berbicara dengan jujur, memberi tahu apa yang dibutuhkannya, bukan apa yang kita paksakan kepadanya. Pikiran, yang sebelumnya bising dan gelisah, perlahan menemukan ritmenya sendiri.

Dalam keheningan itulah kita menyadari sesuatu yang mengejutkan: banyak beban hidup tidak datang dari kenyataan, melainkan dari pikiran yang bergerak terlalu cepat. Kita tidak kelelahan oleh apa yang terjadi, tetapi oleh apa yang kita bayangkan, khawatirkan, dan tuntutkan. Saat pikiran melambat, kenyataan sering kali tidak seberat yang kita kira.

Maka perlambatlah langkah, walau hanya sedikit. Perlambatlah napas, walau hanya sebentar. Jangan menunggu hidup menjadi tenang untuk berhenti; berhentilah, dan ketenangan akan menyusul.

Di setiap jeda, tersembunyi pintu menuju kedamaian. Di setiap keheningan, ada ruang bagi kebijaksanaan untuk berbicara. Dan di setiap momen yang kita izinkan berjalan lebih lambat, kita menemukan kembali diri yang selama ini tertinggal.


Istirahat Bukan Kemewahan, Melainkan Kebutuhan

Dalam dunia yang terus menuntut kita untuk bergerak lebih cepat, bekerja lebih keras, dan menghasilkan lebih banyak, istirahat sering kali dipandang sebagai sesuatu yang harus “diusahakan setelah semuanya selesai.” Seolah-olah istirahat adalah hadiah, bukan bagian dari hidup itu sendiri. Namun Haemin Sunim dengan lembut membalik cara pandang ini. Ia mengingatkan bahwa istirahat bukan kemewahan, melainkan kebutuhan yang paling dasar.

Budaya produktivitas mengajarkan kita untuk mengukur nilai diri dari seberapa sibuk kita. Semakin penuh jadwal kita, semakin kita merasa berarti. Ketika tubuh meminta berhenti, kita menuduhnya lemah. Ketika pikiran lelah, kita memaksanya terus berjalan. Padahal, kebijaksanaan tidak selalu muncul dari dorongan ke depan, melainkan dari keberanian untuk berhenti.

Istirahat bukan tanda menyerah pada hidup. Ia adalah bentuk penghormatan terhadap keterbatasan manusia. Tubuh kita bukan mesin yang bisa dipaksa tanpa henti. Pikiran kita bukan alat yang bisa terus digunakan tanpa jeda. Jiwa kita membutuhkan ruang hening agar dapat bernapas. Tanpa istirahat, kita mungkin tetap bergerak, tetapi gerakan itu rapuh, mudah runtuh oleh hal-hal kecil.

Ketika kita mengabaikan kebutuhan untuk berhenti, kelelahan tidak selalu datang dalam bentuk rasa kantuk. Ia sering muncul sebagai kemarahan yang tidak proporsional, kesedihan yang tidak kita mengerti asalnya, atau kegelisahan yang terus menggerogoti. Kita menjadi cepat tersinggung, kehilangan empati, dan sulit melihat persoalan dengan jernih. Bukan karena hidup terlalu berat, melainkan karena kita terlalu lama berjalan tanpa berhenti.

Istirahat memberi kesempatan bagi tubuh untuk memulihkan diri, bagi pikiran untuk menjernih, dan bagi jiwa untuk kembali seimbang. Tanpa istirahat, kita mungkin tetap bergerak, tetapi bergerak dalam kondisi rapuh. Kita menjadi mudah lelah, mudah tersinggung, dan kehilangan kejernihan dalam mengambil keputusan.

Istirahat bukanlah pelarian dari hidup. Ia justru memungkinkan kita untuk bertahan dan hadir secara utuh dalam hidup.



Mindfulness: Melihat yang Selama Ini Terlewat

Ketika hidup dijalani dengan tergesa-gesa, banyak hal sederhana yang terlewat begitu saja: rasa hangat secangkir teh, napas yang masuk dan keluar, senyum orang terdekat, atau keheningan pagi hari.

Kesadaran penuh tidak menghilangkan penderitaan, tetapi mengubah hubungan kita dengannya. Ketika kita hadir sepenuhnya, kita tidak menumpuk kecemasan tentang masa depan atau penyesalan tentang masa lalu. Kita bertemu hidup apa adanya, di detik ini. Dan sering kali, detik ini jauh lebih bisa diterima daripada cerita yang kita ciptakan di kepala.

Hidup yang dijalani dengan kesadaran penuh terasa lebih nyata, lebih lembut, dan lebih manusiawi. Kita berhenti hidup sebagai fungsi, dan kembali menjadi manusia. Bukan manusia yang sempurna, tetapi manusia yang hadir, yang merasakan, dan yang memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk bernapas.

Saat kita memperlambat langkah, dunia tidak berubah. Tetapi cara kita melihat dunia berubah. Hal-hal kecil yang sebelumnya tak terlihat menjadi sumber ketenangan. Kita mulai benar-benar mendengar, bukan sekadar menunggu giliran berbicara. Kita mulai benar-benar makan, bukan sekadar mengisi perut sambil memikirkan hal lain.

Kesadaran penuh membuat hidup terasa lebih nyata dan lebih manusiawi. Mungkin yang kita butuhkan bukan hidup yang lebih cepat atau lebih besar, melainkan hidup yang lebih hadir. Dan kehadiran itu hanya mungkin ketika kita berani berhenti, beristirahat, dan melihat kembali apa yang selama ini terlewat.


Mencintai Diri Sendiri di Tengah Ketidaksempurnaan

Kita sering menjadi hakim paling keras bagi diri sendiri. Kesalahan kecil bisa kita bawa bertahun-tahun. Kegagalan sesaat kita anggap sebagai bukti bahwa diri ini tidak cukup baik. Kita menuntut diri untuk selalu benar, selalu kuat, selalu berhasil, seakan lupa bahwa kita adalah manusia yang sedang belajar menjalani hidup, bukan makhluk yang telah selesai.

Ketika kita memperlambat batin, kita mulai mendengar diri dengan cara yang berbeda. Nada keras berubah menjadi suara yang lebih lembut. Kita memberi diri izin untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan berkata, “Aku sedang belajar.” Dalam ruang itu, muncul keberanian untuk memaafkan diri sendiri—bukan karena semuanya sudah benar, tetapi karena kita layak diperlakukan dengan welas asih terhadap diri sendiri. Banyak penderitaan lahir bukan dari kegagalan itu sendiri, tetapi dari cara kita memperlakukan diri saat gagal. Mencintai diri sendiri bukan berarti membenarkan semua tindakan, melainkan menerima bahwa kita manusia yang sedang belajar. Dengan memperlambat batin, kita memberi ruang untuk memaafkan diri, berdamai dengan masa lalu, dan melangkah ke depan dengan lebih ringan.


Mengubah Sudut Pandang, Mengurangi Beban

Sering kali, yang membuat hidup terasa berat bukanlah besarnya masalah, melainkan cara kita memandangnya. Pikiran yang bergerak terlalu cepat cenderung melihat segalanya dalam keadaan darurat. Satu persoalan kecil dapat berkembang menjadi rangkaian kekhawatiran yang panjang. Kita memikirkan kemungkinan terburuk, mengulang-ulang skenario yang belum tentu terjadi, dan akhirnya kelelahan oleh pikiran kita sendiri.

Ketenangan batin bukan tentang menghilangkan masalah, melainkan tentang memperluas cara kita melihatnya. Ketika batin menenangkan diri, perspektif kita pun meluas. Kita tidak lagi terjebak pada satu sudut pandang yang sempit dan reaktif. Kita mulai melihat bahwa tidak semua hal membutuhkan reaksi segera, dan tidak semua masalah harus diselesaikan sekaligus.

Dengan batin yang lebih tenang, kita mampu membedakan mana yang sungguh penting dan mana yang bisa dilepaskan. Hal-hal yang dulu terasa mendesak ternyata bisa menunggu. Hal-hal yang dulu terasa mengancam ternyata bisa dihadapi satu per satu. Masalah tidak selalu menjadi lebih kecil, tetapi ruang di dalam diri kita menjadi lebih luas.

Dengan batin yang lebih tenang, hidup tidak lagi terasa sebagai beban yang harus dipikul sendirian. Ia menjadi perjalanan yang bisa dijalani dengan langkah yang lebih ringan, dengan hati yang tidak lagi tergesa, dan dengan kepercayaan bahwa tidak semua hal harus sempurna untuk bisa dijalani dengan damai.

Ketenangan batin memperluas perspektif. Kita tidak lagi melihat hidup secara sempit dan reaktif, melainkan dengan kejernihan dan kebijaksanaan. Dengan sudut pandang yang lebih tenang, kita mampu membedakan mana yang penting dan mana yang bisa dilepaskan.


Renungan Seni Melambat

Perlambatlah langkah, walau sedikit.

Perlambatlah napas, walau sebentar.

Karena di setiap jeda, ada pintu menuju kedamaian.

Di setiap keheningan, ada ruang bagi kebijaksanaan.

Dan di setiap momen yang dilambatkan, kita menemukan kembali kehadiran diri.

Melambat bukan berarti tertinggal.

Melambat berarti akhirnya benar-benar hadir dalam hidup yang sedang kita jalani.


Referensi: The Things You Can See Only When You Slow Down, Haemin Sunim



Table of contents

Video 1

Table of contents

Mengapa Melakukan Kegiatan Ritual Buddhis?