Tanya Jawab Praktek Meditasi
Jumat, 28 Feb 2025
Oleh: Ir. Agus Santoso
T: Apakah disarankan untuk membaca banyak buku atau mendalami kitab suci terlebih dahulu sebagai bagian dari praktik?
Dhamma Sang Buddha tidak ditemukan dalam buku-buku. Jika Anda sungguh-sungguh melihat ke dalam diri sendiri, seperti yang diajarkan oleh Buddha, Anda tidak perlu mencarinya di dalam buku. Cukup lihatlah ke dalam pikiran Anda. Periksalah bagaimana perasaan datang dan pergi, serta bagaimana pemikiran-pemikiran muncul dan berlalu. Jangan melekat pada apapun. Cukup penuh perhatian pada apa saja yang muncul untuk dilihat. Inilah jalan kebenaran dari Sang Buddha. Alamiah! Segala sesuatu yang Anda lakukan dalam hidup sehari-hari adalah kesempatan untuk berpraktik. Ini semua adalah Dhamma. Ketika mengerjakan tugas-tugas, cobalah untuk bersikap sadar penuh (mindful) dan kerjakan dengan penuh perhatian. Jika Anda sedang mengosongkan tempat sampah atau membersihkan toilet, jangan anggap ini sebagai bentuk kedermawanan untuk orang lain. Ada Dhamma di saat mengosongkan tempat sampah. Jangan berpikir bahwa praktik hanya terjadi ketika Anda sedang duduk hening dengan kaki bersila. Beberapa orang mengeluh tidak punya cukup waktu untuk bermeditasi. Apakah Anda cukup waktu untuk bernapas? Inilah saatnya untuk bermeditasi, penuh perhatian dan alami pada apa saja yang sedang Anda lakukan.
T: Apa yang dapat dilakukan pada keragu-raguan? Beberapa orang sering diganggu dengan perasaan ragu akan praktik atau proses latihan yang sedang dijalani, termasuk kepada guru.
J: Ragu-ragu adalah hal yang alami dan wajar. Setiap orang memulai dengan keragu-raguan. Kita dapat belajar banyak dari keragu-raguan tersebut. Yang penting adalah jangan sampai mengidentifikasi diri Anda dengan keragu-raguan. Jangan terperangkap di dalamnya, karena ini akan menjerumuskan pikiran ke dalam lingkaran yang tak berujung. Sebaliknya, perhatikan keseluruhan proses keragu-raguan dan rasa ingin tahu. Lihatlah siapa yang meragukan dan bagaimana perasaan ragu ini datang dan pergi. Dengan begitu, Anda tidak akan terus-menerus menjadi korban keragu-raguan. Ketika Anda berusaha melangkah keluar darinya, pikiran Anda akan tenang. Lihatlah bagaimana segala sesuatu datang dan berlalu. Biarkan semua itu berlalu tanpa melekat padanya. Biarkan keragu-raguan berlalu dan cukup perhatikan saja. Inilah cara untuk mengakhiri keragu-raguan.
T: Apa komentar guru mengenai praktik meditasi yang lain? Belakangan ini, banyak sekali guru meditasi dan sistem meditasi yang berbeda-beda, yang bisa membingungkan.
J: Seperti halnya masuk ke sebuah kota, seseorang dapat mengambil jalan dari arah utara, tenggara, atau dari banyak jalan menuju kota. Sering kali, sistem-sistem meditasi ini terlihat berbeda di permukaan. Apakah Anda berjalan di jalan ini atau itu, cepat atau lambat, jika Anda penuh perhatian, maka semua adalah sama. Satu poin yang sangat esensial adalah bahwa semua cara berpraktik yang benar akhirnya kembali pada prinsip ‘Jangan melekat!’. Di akhir jalan, semua sistem meditasi hanyalah dibiarkan berlalu dan dilepas. Tidak ada seorang pun yang melekat pada gurunya. Jika sebuah sistem menuntun pada pelepasan untuk tidak melekat pada apapun, maka itu adalah praktik yang benar.
Setiap orang boleh saja pergi berkeliling, mengunjungi berbagai guru, dan mencoba sistem lainnya. Beberapa orang bahkan sudah melakukannya. Ini adalah keinginan yang alami. Namun, semua pertanyaan yang diajukan dan pengetahuan dari berbagai sistem tersebut tidak akan menuntun pada kebenaran. Akhirnya, mereka akan merasa bosan dan lelah dengan sendirinya. Anda akan menemukan bahwa hanya dengan berhenti dan memeriksa pikiran Anda, Anda dapat menemukan apa yang disabdakan oleh Buddha. Tidak perlu mencarinya di luar diri Anda. Pada akhirnya, Anda harus kembali kepada wajah sejati Anda sendiri. Di sinilah Dhamma dapat dipahami.
T: Jika masih memiliki banyak sekali pemikiran. Pikiran sering kali mengembara walaupun telah berusaha untuk tetap sadar dan penuh perhatian.
J: Jangan khawatir. Cobalah untuk menjaga pikiran Anda pada saat ini, sekarang, di sini. Apapun yang muncul dalam pikiran, amati. Biarkan ia berlalu. Jangan pernah berpikir untuk menyingkirkan semua pemikiran ini. Kemudian, pikiran akan tiba pada keadaannya yang alami. Tidak ada diskriminasi antara baik dan buruk, rasa panas dan dingin, cepat atau lambat. Tidak ada aku maupun kamu, tidak ada apa yang disebut ‘diri’ ini, hanya inilah yang ada. Saat seseorang berkeliling berpindapatta, tidak perlu melakukan sesuatu yang spesial. Cukup jalan dan lihatlah apa yang ada. Tidak perlu selalu mengasingkan diri. Apapun itu, kenalilah diri Anda dengan alami dan terus amati. Bila muncul keragu-raguan, amati ketika ia muncul dan berlalu, sangat sederhana. JANGAN BERSANDAR pada apapun. Ini seperti sedang berjalan-jalan di trotoar dan menemui halangan. Ketika berjumpa dengan kekotoran batin, cukup lihat saja dan hadapilah kekotoran tersebut dengan membiarkannya berlalu. Jangan berpikir mengenai halangan yang sudah lewat, atau mengkhawatirkan halangan-halangan yang belum datang. Tetap tinggal pada momen saat ini. Jangan pedulikan seberapa lama perjalanan yang harus ditempuh atau jauhnya tujuan. Segala sesuatu terus berubah. Apapun yang ditemui, jangan melekat padanya. Pada akhirnya, pikiran akan mencapai keseimbangan alaminya di mana praktik pun berjalan dengan otomatis. Semuanya datang dan pergi dengan sendirinya.
T: Samatha (konsentrasi) dan Vipassana (wawasan-kebijaksanaan) sering kali dikatakan adalah objek meditasi yang sama. Dapatkah menjelaskan lebih lanjut mengenai Samatha dan Vipassana?
J: Ini sederhana. Konsentrasi (samatha) dan Wawasan Kebijaksanaan (vipassana) bekerja bersama-sama. Mula-mula, pikiran menjadi hening dengan memusatkan diri pada satu objek meditasi. Pikiran bisa diam jika sedang duduk dengan mata terpejam. Inilah samatha, dan dasar yang diperoleh dari samatha ini adalah kondisi bagi timbulnya kebijaksanaan (wisdom) dan vipassana. Pikiran yang demikian hening, baik saat duduk dengan mata terpejam atau ketika berkeliling dengan bus kota. Dulunya kita adalah seorang anak kecil dan kini telah menjadi seorang dewasa. Apakah anak kecil dan orang dewasa adalah orang yang sama? Bisa dikatakan mereka sama, namun jika dilihat dari sisi yang berbeda, juga bisa dikatakan mereka berbeda. Demikian juga, samatha dan vipassana dapat dilihat secara berbeda. Sama halnya dengan makanan dan tahi. Makanan dan tahi bisa dikatakan sama dan juga bisa dikatakan berbeda. Jangan hanya percaya dengan apa yang saya ucapkan, praktekkanlah dan lihatlah ke dalam diri Anda sendiri. Tidak diperlukan hal-hal yang spesial. Jika Anda memeriksa bagaimana konsentrasi dan kebijaksanaan muncul, Anda akan mengetahui kebenaran bagi diri sendiri. Saat ini, banyak orang melekat pada kata-kata. Mereka menyebut latihan mereka vipassana. Samatha kelihatannya dikesampingkan, atau mereka menyebutnya latihan samatha. Penting untuk melakukan latihan samatha sebelum vipassana, itulah yang mereka katakan. Semua ini adalah pandangan yang keliru. Jangan bingung dengan berpikir demikian. Sederhananya, latihlah dengan sungguh-sungguh, dan Anda akan melihatnya sendiri.
T: Dapat dirasakan mengantuk sungguh mengganggu, membuat susah sekali untuk bermeditasi.
J: Banyak cara untuk menangani rasa ngantuk. Jika Anda duduk di tempat gelap, pindahlah ke tempat terang. Buka mata. Bangun dan cuci muka, atau pergi mandi. Jika Anda tetap ngantuk, ubahlah posisi meditasi. Berjalanlah lebih banyak. Jika belum juga, tetap berdiri, jernihkan pikiran, dan bayangkan hari sedang siang. Atau duduklah di pinggir jurang yang tinggi atau pinggir sumur yang dalam, pasti Anda tidak akan berani tertidur! Jika masih juga, pergilah tidur. Berbaringlah dengan waspada dan cobalah tetap sadar hingga saat-saat terakhir sebelum tertidur. Begitu Anda sadar, langsung bangun. Jangan melihat jam berapa sekarang atau berguling-guling malas. Mulailah penuh perhatian seketika Anda terjaga! Jika Anda selalu ngantuk setiap hari, cobalah makan sedikit saja. Periksa diri Anda, rasakan sendiri. Sesegera setelah makan lima sendok, Anda sudah merasa kenyang. Berhentilah! Minumlah air putih hingga cukup kenyang. Pergi dan duduk meditasi. Amati rasa ngantuk dan lapar itu. Anda harus belajar menyeimbangkan makanan. Secara alami, latihan akan terasa lebih energik dan cukup dengan makan sedikit. Aturlah sendiri kebutuhan Anda.
T: Sudah bermeditasi bertahun-tahun hingga saat ini. Pikiran sudah lapang dan damai hampir di segala situasi. Sekarang ingin coba mundur-balik, pendalaman latihan konsentrasi atau kekhusukan pikiran yang lebih jauh.
J: Ini baik. Inilah manfaat dari latihan mental. Jika seseorang memiliki kebijaksanaan, ia tidak akan tergantung pada pencapaian konsentrasi pikiran. Ini sama halnya dengan menginginkan duduk bermeditasi untuk waktu yang lama. Ini bagus sekali untuk melatih diri, tetapi praktik tidak terpaku pada postur atau posisi. Ini soal melatih, melihat langsung ke dalam pikiran. Inilah kebijaksanaan. Ketika Anda sedang memeriksa dan mengamati pikiran ini, maka kebijaksanaan akan memberi tahu batasan-batasan konsentrasi, atau membaca buku. Jika Anda sudah berpraktik dan mengerti ketidakmelekatan, maka Anda bisa kembali pada buku-buku. Ini seperti hidangan penutup yang lezat. Buku-buku akan membantu Anda bagaimana caranya untuk mengajarkan dan menjelaskan kepada orang lain. Atau Anda dapat kembali melatih kekhusukan meditatif. Maka dikatakan bahwa Anda sudah memiliki kebijaksanaan sebagai alat pengingat untuk tidak melekat pada apapun.